BAHASA JIWA BANGSA

(Kary Tedy Pujayanti)

 

Pagi ini, matahari muncul dengan malu malu. Udara yang sejuk menyambut dunia, dan bunyi burung burung yang bersahutan. Terlihat seorang perempuan bernama Tia yang sedang membaca buku di taman sambil menikmati indahnya dunia pagi ini. Tanpa disadari olehnya, ternyata ada temannya yaitu Gita yang datang dari belakang dengan berjalan secara perlahan, Saat sudah dibelakang Tia, Gita langsung mengagetkan Tia.

“Dooorrr” teriak Gita dibelakang Tia.

Tia yang terkejut secara refleks langsung berkata “Astaga”, dan menoleh kebelakang.

“Astaga ternyata kamu Gita, jangan gitu dong, kalau aku punya penyakit jantung, udah pingsan aku” jawab Tia kesal, namun Gita hanya tertawa saja melihat reaksi temannya tadi.

“Hahaha, iya maaf maaf, omong-omong kamu lagi baca apa?, sampai fokus gitu, kelihatannya seru” tanya Gita.

Memilih menghilangkan rasa kesal pada temannya itu, ia menjawab.

“Ini?, ini aku lagi baca buku tentang perbedaan bahasa. Beberapa hari lalu, ibu guru kan membahas tentang banyaknya bahasa. Karena penasaran, jadi aku cari buku tentang bahasa bahasa yang ada. Ternyata ada banyak banget. Apalagi, ada bahasa daerah juga” jawab Tia.

“Wahh, kayaknya menarik.  Aku mau ikut baca dongg!” pinta Gita.

“Boleh… boleh” jawab Tia.

Akhirnya mereka membaca buku tersebut sambil sesekali berdecak kagum dengan banyaknya bahasa yang ada. Sesekali mereka juga mencoba untuk menggunakan bahasa tersebut secara bergantian.

“Wah, ternyata banyak ya, bahasa yang ada, aku kira cuma ada bahasa Indonesia sama inggris aja, ternyata ada bahasa daerah juga” decak Gita kagum, dan membuat Tia menganggukkan kepalanya. Dirinya juga teramat kagum dengan keberagaman bahasa yang ada. Tak terasa mereka membaca sampai sore, dan karena sudah sore mereka berdua pulang kerumah masing masing.

Keesokannya, Gita datang ke rumah Tia untuk mengajak pergi sekolah bersama. Tia segera pamit kepada Ayah dan Ibunya dan langsung menghampiri Gita dan mengajak Gita pergi kesekolah. Sepuluh menit berlalu, akhirnya mereka sampai di sekolah. Sesekali, Gita mengeluarkan candaan sembari berjalan ke kelas.

Baru saja Gita dan Tia ingin menaruh tas, mereka berdua mendengar keributan. Karena penasaran, mereka berdua langsung melihat apa yang terjadi. Ternyata disana Ciko dan Doni sedang berdebat. Padahal yang mereka ketahui Ciko dan Doni itu cukup akrab dan tak pernah bertengkar ataupun berdebat. Tia yang penasaran akhirnya bertanya ke salah satu temannya yaitu Sinta, apa permasalahannya, Sinta pun menjawab bahwa Ciko dan Doni berdebat tentang Bahasa daerah siapa yang paling keren dan bagus.

Setelah mengetahui kunci dari permasalahan, Tia langsung menghampiri Ciko dan Doni dan melerai mereka.

“Sudah!, sudah!, cukup!, kenapa kalian berdebat seperti ini!”. Hanya karena melihat bahasa siapa yang paling keren dan bagus. ” lerai Tia.

“Tapi Tia, bahasaku memang lebih bagus kok dari bahasanya Doni, bahasaku lebih keren” jawab Ciko angkuh, yang dimana bahasa daerah Ciko adalah bahasa Sunda.

“Hei Ciko!, kamu jangan sok angkuh gitu, bahasaku lebih bagus daripada bahasa mu, banyak orang juga suka dengan bahasa daerahku” jawab Doni, yang dimana bahasa daerahnya adalah bahasa Bali

“DONI!, gausah sok juga kamu, asal kamu tau ya, bahasa sunda itu lebih bagus, lebih keren, daripada bahasa Bali, jelek, ada aksara aksara gitu, jadinya susah paham, makanya orang orang pasti gak suka dan gak betah sama bahasa Bali!. Sedangkan bahasaku lebih mudah dipahami, walaupun ada aksara juga, tapi lebih bagus dan menarik” jawab Ciko angkuh dan sinis

“Halah Ciko, aksara aksara dari bahasa bali tuh lebih bagus dari aksara aksara daerah kamu!, aksara bali lebih keren terus banyak turis memiliki minat dengan bahasa Bali!. Itu membuktikan bahasa daerahku lebih bagus daripada bahasa daerahmu” jawab Doni

Tia yang mendengar perdebataan itu merasa kesal sekaligus sedih, bukankah bahasa yang berbeda itu memiliki ciri khasnya masing masing, dan juga bukankah kita seharusnya saling menghargai perbedaan yang ada, seperti semboyan kita BHINEKA TUNGGAL IKA ( BERBEDA BEDA TETAPI TETAP SATU).

“Sudah, cukup!, jangan membanding-bandingkan bahasa daerah kita masing masing, bahasa dari daerah kita masing masing itu memiliki ciri khas nya tersendiri, dan kalian kira dengan membanding-bandingkan bahasa daerah masing masing, akan membuat bahasa daerah kalian dikagumi??, enggak kan?, itu malah bisa memicu reaksi negatif orang orang dan bisa menciptakan pergesekan antarsuku dan memicu terjadinya konflik atau perang, lagipula negara kita memiliki semboyan bukan?, Bhineka Tunggal Ika atau Berbeda beda Tetapi Tetap Satu, sudah selayaknya kita mengamalkan semboyan tersebut dalam kehidupan sehari hari, diluar daerah/kota, ataupun didalam. Kita sebagai generasi penerus bangsa hendaknya menjaga dan melestarikan budaya kita tanpa merendahkan budaya lainnya” jelas Tia panjang

“Sekarang aku harap kalian saling meminta maaf” kata Tia.

Mendengar perkataan Tia tadi, Ciko dan Doni terdiam, mereka saling memandang satu sama lain, mereka rasa perkataan Tia tadi memang benar dan sudah sangat jelas, jika mereka masih tetap bersitegang tentang bahasa daerah siapa yang paling bagus, itu bisa memicu konflik. Merasa bersalah, Ciko dan Doni saling menoleh dan langsung saling berjabat tangan dan berkata

“Aku minta maaf ya” jawab Doni

“Aku juga, maaf karena sudah menjelek jelek kan bahasa daerah mu ya” jawab Ciko

Ciko dan Doni akhirnya berbaikan, mereka juga berterima kasih kepada Tia karena telah menyadarkan mereka akan pentingnya menghargai perbedaan yang ada.

Tia yang melihat itu akhirnya tersenyum. Sedangkan Gita yang dari tadi melihat apa yang dilakukan oleh Tia merasa sangat kagum akan cara Tia menyelesaikan perdebatan Ciko dan Doni.

“Kamu keren banget Tia, bisa melerai dan menyelesaikan perdebatan Ciko dan Doni” kagum Gita

“Memang seharusnya itu yang dilakukan bukan?, kita harus bisa mengharagai perbedaan bahasa, kita juga sebagai generasi penerus bangsa alangkah baiknya menjaga warisan nenek moyang kita, contohnya bahasa bahasa daerah mereka, jika tidak bahasa bahasa itu akan pupus, dan juga jika dibiarkan seperti perdebatan Ciko dan Doni tadi, itu bisa menyebabkan masalah dan bisa merembet menjadi masalah yang besar” jawab Tia.

“Wahhh, emang keren deh sahabatku yang satu ini” kata Gita seraya tertawa, dan dibalas tawa juga oleh Tia.

 

Kita mungkin memiliki agama yang berbeda, bahasa yang berbeda, warna kulit yang berbeda, tetapi kita semua milik satu ras manusia” batin Tia.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Print
Email
WhatsApp

Baca juga karya berikut !

Pelantikan Bantara Ambalan Mahadewa Mahadewi

Banyuatis, Smansabar- Pelantikan Bantara dan Dewan Ambalan Mahadewa Mahadewi dilaksanakan  pada Sabtu dan Minggu, 2-3  Desember 2023 di DTW Danau Tamblingan. Mengusung tema Peta Perjalanan Kepemimpinan dihadiri oleh Kepala SMA…

SMANSABAR Juara 3 Lomba Mading Kabupaten Buleleng

Smansabar (Banyuatis)- Dalam rangka Forkom Attraction and Festival Tahun 2023, SMA Negeri 1 Banjar mengirimkan satu tim lomba mading yang beranggotakan Kadek Elsa Dwipayani (XII MIPA 3), Ketut Angga Pradnyana…

Aku, Kamu Menjadi Kita

(Karya Nadia)Ini  bulan Juli tahun 2022,  masa MPLS. Caca sudah lulus dari SMP. Ia  melanjutkan ke jenjang SMA. Sekolah tujuannya adalah SMA N 1 Banjar. Sebuah sekolah di desa yang…

ANTARA TEMAN DAN CINTA

(Karya Devik)Ketika perempuan dan laki laki menjadi sahabat apakah mungkin diantaranya tidak akan tumbuh sebuah rasa? Rasanya mustahil jika salah satunya tidak menaruh rasa cinta. Hanya saja terkadang takut untuk…

Bahagia Bertubi

Oleh  Putu Ferry AriawanPada suatu malam, di hari Kamis tanggal delapan Agustus 2023, aku melamun di kamar. Aku berkhayal memikirkan nilai rapotku besok yang akan dibagikan. Aku berekspektasi agar mendapatkan…

BAHASA JIWA BANGSA

(Kary Tedy Pujayanti) Pagi ini, matahari muncul dengan malu malu. Udara yang sejuk menyambut dunia, dan bunyi burung burung yang bersahutan. Terlihat seorang perempuan bernama Tia yang sedang membaca buku di…

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Get 30% off your first purchase

X
Scroll to Top