Inikah Namanya Cinta?

Inikah Namanya Cinta?

(Oleh Ferry Ariawan)

 

Saat itu  adalah  bulan Juli, tepatnya  tanggal satu Tahun 2022. Hari terakhirku di kota. Pada saat itu, aku tinggal di kota bersama keluargaku, di kota Denpasar, Kabupaten Badung. Lebih tepatnya, di Nusa Dua, yang terkenal ramainya wisatawan mancanegara yang berkunjung. Rumahku berada di desa adat Kampial di perumahan Pondok Kampial Permai. Aku tinggal di sana dari aku kelas 3 SD dan aku pindah ke kampung saat akan masuk SMA.

Namaku Satria Putra Sanjaya. Apakah kalian tau Introvert? Iya, introvert itu aku seorang yang tertutup yang takut akan keramaian. Sungguh berbeda rasanya saat aku tinggal dikota. Di kota, aku tidak setakut seperti tinggal di desa. Itu mungkin karena aku sudah tahu lingkungan di kota dan aku sangat banyak mempunyai teman. Sedangkan kini, aku tinggal di desa. Aku belum tahu situasi di lingkungan di desa, dan faktor utamanya adalah aku tidak mempunyai teman satupun. Aku selalu merasa kesepian. Intinya, berbeda.  Tidak seperti di kota.

Sebelumnya, pada suatu hari aku bertanya ke bapakku tentang pindahnya ke desa.

“Pak …aku mau bertanya boleh?”

“Bolehhh, nanya apa?”

“Pak… kenapa kita pindah ke desa?”

“Bapak waktu muda pernah berjanji, suatu saat akan tinggal ke kampung  lagi dan menetap.  Dan sekarang adalah saatnya”

“Oh begitu …, baiklah…”

“ Tidak keberatan kan, Sat..?”

“ Tidak pak”

“ Ya udah kalo begitu, Bapak ke kebun sebentar”

“Baik pakk”

Ayahku pergi ke kebun membawa alat alat perkebunan. Aku masih tetap di posisi itu. Tidak lama kemudian, aku pergi ke kamar untuk bermain HP dan melihat info tentang seleksi pendaftaran sekolah SMA. Ternyata aku lolos seleksi. Tidak lama kemudian, ada seorang guru dari pihak sekolah yang menghubungiku dan memberikan link grup untuk para peserta yang lolos seleksi. Akupun masuk ke dalam grup itu dan ada info bahwa besok para peserta didik sekolah untuk pembagian gugus atau kelompok.

Di sana, tiba-tiba aku  merasa panik. Aku gelisah,  dag-dig-dug tidak karuan. Akupun mencoba untuk menenangkan diri agar tidak panik. “Aku harus percaya diri untuk menghadapinya”,  dalam hatiuku.

Malam pun tiba. Di langit kulihat indahnya sinar bulan di kelilingi bintang-bintang. dan suara jengkerik dan satwa malam  berpadu bagai simfony alam.  Aku sedang duduk memegang handphone ditemani secangkir teh hangat.  Aku diam termenung,  aku meyakinkan untuk hari besok. Aku membuka handphone dan membuka grup dan melihat anggota grup. Aku melihat salah satu akun dengan foto profil. Tak asing bagiku, dan benar saja,  ternyata dia adalah yang pernah mengikuti Instagramku. Dia bernama Meisya. Akupun meyakinkan untuk memastikan bahwa itu dia atau bukan.

“Ohh ternyataaa itu dia”, aku mengetahui namanya di sosmed, Kami belum akrab satu sama lain karena belum pernah bertemu.

Aku mencoba mengirim pesan ke akunnya.  Ternyata, dibalas. Tak berlama lama aku langsung bertanya,

“Apakah kita satu sekolah?”

Dia membalas,  “Ohh iyakah?”

“Iya aku lihat foto profilmu sepertinya pernah melihatmu” , aku membalasnya.

Dia membalas lagi,“Wahh.. kita satu sekolah dong”

Dia langsung mengajakku untuk berkenalan, “Salken ya. Namaku Meisya. Btw, namamu siapa?”

“Iya salken. Namaku Satria, nama panjang ku Satriaaaaaa”

“Ohh iyaa. Btw, kamu udah punya temen belum?” tanyanya.

“Belumm, gimana ya, aku agak takut soalnya aku ga kenal siapa- siapa”

“Pastii kamu introvert  yaa?  Udahh ah…, ga usah takutt PD donggg!”

“ Iyaaa dehh, aku coba besok biar PD. Btw, kamu kok tau aku introvert? Jangan jangan?”

“ Iyaa lahhh Cenayang nii boss”

“Ohh pantesan”

“Ngaa, nggaa… Satt becandaa doangg. Serius amatt”

“ Yaa… kan, siapa tauu”

“Nggaa, Satt.  Eh iya, kalo besok ketemu sapa aja ya Satt!”

“ Iya, kalau ketemu”

“Iyaa, iyaa Satt”

“ Iyaa, Meii”

 

Chatpun berakahir di situ. Hatiku berkata” Paling akrab di chat  aja.  Hmm… gapalah.  Yang penting, aku punya teman, walaupun ga deket.”

Pagi datang menjelang.  Surya menyapa bumi dan menyapu embun untuk segera menyingkir. Sinarnya ramah mencubit kulitku, menerangi pagiku. Aku bergegas untuk ke sekolah agar tidak terlambat. Tak lupa juga untuk sarapan. Akhirnya, aku berangkat.

Lima belas menit kurang lebih, perjalananku dari rumah ke sekolah. Di perjalanan, aku merasa sedikit takut karena aku tak mempunyai teman satu pun di sana, kecuali Meisya yang hanya lewat WA.

Kini, aku sudah ada di depan gerbang sekolah. Sepasang candi bentar berdiri tegak menyambutku. Di situ, terbentang spanduk yang menyapa”SELAMAT DATANG SISWA BARU DI SMA N 1 BANJAR” Wow…sekolah ini keren sekali. “CERDAS, BERAKHLAK” dengan  huruf balok beton terukir di tembok taman sekolah. Tamannya luas. Kebunnya sangat asri. “Pantes saja sekolah ini dapat penghargaan sekolah adi wiyata mandiri”, pikirku.

Sesampainya di sekolah, aku langsung masuk ke area sekolah dan berbaris sesuai Gugus atau kelompok yang aku dapatkan. Jantungku diselimuti rasa sedikit dag-dig-dug.  Tak lama kemudian,  ada seseorang yang mengajakku berkenalan. Tanpa segan, aku pun mau berkenalan dengannya.

“Halo Bro.. salken. Namaku Juli. Btw namamu siapa?”

Aku menjawab dengan rasa sokab (sok akrab) ,“O iya Broo.. Salken. Namaku Satria”

Lalu dia berkata, “ Oww… okee Broo. O iya, kayanya kamu bukan orang desa ya?”

Aku menjawab“, Iyaa Broo… aku pindahan dari kota. Mau kan btemenan  denganku?”

“Iyaa Broo.  Santaii ajaa!”

“Okee dehh Broo, kalo begitu”

Lima belas menit berdiri dilapangan dan mendengarkan informasi tentang sekolah dari ibu kepala sekolah dan ibu wakil kepala sekolah, akhirnya para peserta didik dibubarkan dan mencari tempat teduh untuk saling berkenalan satu sama lain.

Tak lama mencari tempat teduh, kemudian para OSIS yang mendampingi gugusku mengadakan sesi perkenalan diri. Di sana, aku merasa sedikit gugup dan aku memberanikan diri untuk berkenalan. Ternyata teman-temanku sangat ramah. Akupun merasa lebih tenang dari sebelumnya.

Akhirnya, jam pun menunjuk angka 09.50 para peserta didik dikumpulkan dan diberikan arahan apa saja yang perlu dipersiapkan untuk mengikuti MPLS pada hari Senin hingga hari Jumat. Tak lama kemudian, jam menunjukkan pukul 10.00.  Para peserta didik dibubarkan dan pulang ke rumahnya masing masing untuk beristirahat dan mempersiapkan apa saja yang akan digunakan untuk MPLS. Aku menyiapkan alat-alat untuk MPLS seperti; membuat nametag dan bekal yang dibawa setiap hari selama MPLS.

Sesampainya di rumah, aku langsung mengganti pakaian. Kemudian mempersiapkan yang akan dibutuhkan saat MPLS. Aku membuat name tag yang berisikan: nama, foto, cita-cita, motto hidup. Tak lama tiba tiba ada notif dari Meisya dan dia menanyakan, “Bagaimana hari ini?  Kamu dah punya temen? “

“ Iyaa seruuu, aku udah mempunyai teman. Kamu, gimana?”

“ Wihh baguss dehh kalo udah punya temen.  Aku sudah punya temen juga kokk”

“Okeyy dehh Meii.  Btw, kamu udah buat name tag?”

“Udahh donggg. Kamu udah belum?”

“ Wihh kerennn, aku udah jugaa”

“ Okeyy dehh Sattt, lanjut dulu yaaa baeee”

“Iyaa, Meiii. Baeee”

Hatiku berkata, “Wah ternyata dia asik jugaa yaa,  hihihi”

Sore pun tiba. Mentari balik ke peraduan. Sinarnya merah jingga memancarkan siluet. Sunsetnya indah.  Awan  berwarna jingga. Aku mengambil handphone, “cekrek dulu gasiehhh. Anjayyy… kerenn jugak ni awan”. Malam telah tiba. Aku pun tidurr “Zzzzzzz”

Hari ini adalah hari pertama MPLS. Aku sangat siap untuk melaksanakannya.  Dalam hati aku berkata, “Gass tempurrr coyyy!”.  Aku berangkat sekolah dengan penuh semangat.  Tak lama perjalanan, aku sampai di sekolah.  Kini saatnya bersiap untuk pembukaan MPLS. Di sinilah, aku mulai akrab dengan temanku yang awalnya tak saling berbicara.  Akhirnya saling bicara layaknya berteman lama. MPLS berjalan lancar. Tibalah hari Jumat, yaitu hari terakhir MPLS dan Minggu depan aku sah bersekolah di SMA.

Hari pertama sekolah adalah pembagian kelas dan ternyata gugus ini dipakai selama setahun dan kami akan berpisah di kelas sebelas.  Awalnya sih agak canggung. Berjalan tiga sampai lima  bulan,  kami sudah seperti saudara. Komunikasi sudah akrab tidak ada kata canggung lagii. Tak lupa dengan Meisya, kami berbeda kelas. Namun,  kami selalu saling tolong jika ada tugas.

“ Sat… kamu udah dapet belum,  tugas ini?”Tanya Meisya.

“ Oh udahh Meii, aku bantuu yaa!”

“Bolehhh tuhh”

Tak terasa, semester pertama berakhir. Pada saat itu, adalah hari pembagian rapot. Di sana, MC menyebutkan juara umum dari kelas sepuluh sampai kelas dua belas.  Aku mendengar ada nama Meisya temanku. Aku sangat bangga kepadanya, bahwa dia juara umum pertama.

Dalam hatiku “Ternyata Meisya doyan Umum yahh, anak ambisius nihh.  Semester kedua pasti umum lagi niih,  aslii…” Setelah pembagian rapot siswa diperbolehkan untuk pulang. Sesampai  dirumah,  aku langsung chat Meisya untuk mengucapkan selamat untuk juaranya

“Selamat yaa Meiii, Kamu hebatt…”

“Iya satt,  makasii yaahh”

“ Iyaa sama sama Meii”

Chat berakhir….

Libur pun tiba selama 2 Minggu dan kembali sekolah pada bulan Januari 2023.

Kini mulai semester 2. Semua diawali dengan penuh semangat. Di semester 2 ini waktuku untuk belajar sedikit, karena banyaknya libur seperti libur hari raya dan ujian Kakak kelas 12. Pembelajaran hanya berlangsung Cuma 4 bulan.  Sisanya liburr.  Ada rasa senang dan ada rasa bosan. Akhirnya semester 2 berakhir begitu cepat. Ada kabar baik dan buruk. Baiknya adalah ternyata Meisya masih tetap di umum.  Kabar buruknya adalah perpisahan. Siap tak siap, kami harus siap untuk berpisah kelas karena penjurusan ada yang ke IPA ada yang ke IPS. Ada juga yang ke Bahasa. “Pada intinya, jangan jadikan perpisahan ini sebagai akhir dari pertemanan, setiap adanya pertemuan pasti ada juga perpisahan”, dalam hatiku.  Aku  Dan Meisya memilih jurusan IPS, akankah kami berdua akan sekelas? Atau tidak? Aku berharap agar satu kelas. Aku berdoa. Rasanya ada rasa ingin selalu bersamanya setiap saat. “Mungkinkah ini namanya cinta? Inikah namanya cinta?  dalam hatiuku bertanya.   Aku tak tahu.

5/5

Aku, Kamu Menjadi Kita

(Karya Nadia)Ini  bulan Juli tahun 2022,  masa MPLS. Caca sudah lulus dari SMP. Ia  melanjutkan ke jenjang SMA. Sekolah tujuannya adalah SMA N 1 Banjar.

Read More »

ANTARA TEMAN DAN CINTA

(Karya Devik)Ketika perempuan dan laki laki menjadi sahabat apakah mungkin diantaranya tidak akan tumbuh sebuah rasa? Rasanya mustahil jika salah satunya tidak menaruh rasa cinta.

Read More »

Bahagia Bertubi

Oleh  Putu Ferry AriawanPada suatu malam, di hari Kamis tanggal delapan Agustus 2023, aku melamun di kamar. Aku berkhayal memikirkan nilai rapotku besok yang akan

Read More »

BAHASA JIWA BANGSA

(Kary Tedy Pujayanti) Pagi ini, matahari muncul dengan malu malu. Udara yang sejuk menyambut dunia, dan bunyi burung burung yang bersahutan. Terlihat seorang perempuan bernama Tia

Read More »

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Get 30% off your first purchase

X
Scroll to Top