Misteri Daun Cengkeh

Misteri Daun Cengkeh

(Oleh Tania Agustini)

Malam ini purnama. Langit  dihiasi cahaya bintang berkelap-kelip bagai planetarium. Tidak ada awan sedikit pun menggayut yang jahil menutupinya. Aku sedang duduk sendiri di teras belakang rumahku. Kulihat cahaya kedap-kedip di rumah penduduk di kejauhan terpantul di sawah yang tergenang air yang telah dibajak  petani. Suara kodok dan satwa malam bersahutan di tengah sawah menjadi nuansa malam di desa. Aku bayangkan betapa mereka bahagia bersama keluarga mereka masing-masing. Tapi semua itu berbeda dengan yang kurasakan saat ini.

Pandanganku jauh menerawang ke angkasa, menembus langit.  Batinku terasa penuh sesak. Hatiku seperti tersayat sembilu. “Mengapa tega pada diriku” batinku mengeluh. Dalam hati ini berkata “Tuhan mengapa hal ini harus menimpa ku? Aku takut! Aku tidak tau harus memberi tahu hal ini kepada siapa”.  Tanpa kusadari tetes demi tetes air mata membasahi pipiku, pikiranku kalut, buntu, tak ada arah. Aku menangis sesenggukan.

“Tuhaaaaannnnnnnn…kenapa aku begini…”

Mentari telah mencubit pipiku dari tidurku. Aku terperanjat ternyata hari sudah pagi. Rupanya aku tertidur semalam di teras. Aku bergegas bersiap-siap berangkat sekolah. Tidak seperti biasanya hari ini. Biasanya aku selalu bangun pagi, memasak sendiri, menyiapkan semua sendiri karena aku memang tinggal sendirian . Ayah dan ibuku kerja di kota mencari nafkah, sedangkan aku tinggal di desa.

Chika Putri Diana, itu namaku. Kini aku sedang duduk di kelas sepuluh di bangku SMA. Di sekolah, aku adalah anak yang ambisi, ceria, aktif berorganisasi. Karena itulah aku juga mengikuti organisasi OSIS dan aku mengambil jabatan sebagai bendahara.

“Chika kenapa ya…? Sebulan terakhir ini beda banget, tiba-tiba senyumnya lenyap, sering melamun, raut wajahnya lesu, pucat seperti ada sesuatu, terus matanya sembab. Pas jam pelajaran juga dia yang biasanya selalu aktif menjawab pertanyaan dari guru, kok hanya terdiam saja tak ada sepatah kata pun  ya?. Ujar teman-temanku yang berbisik dibelakangku namun aku masih bisa mendengarnya.

Hari itu adalah jadwal Ulangan Akhir Semester. Semua siswa mengikuti ulangan dengan bersungguh-sungguh. Beda halnya dengan diriku. Aku tak bisa konsentrasi. Aku hanya ingin menangis, menangis dan berteriak. aku tidak fokus dalam menjawab soal ulangan. Masalah ini selalu menghantuiku.  Aku berusaha fokus, tapi tetap saja konsentrasiku buyar.

“Anak-anak..tolong diihat waktunya” , pengawas ujian di kelasku mengingatkan.

“Aduh…gimana ini. Aku baru sadar ternyata waktunya tinggal dua puluh lima menit lagi. “ aku menggerutu dalam hati. Akhirnya  aku hanya berusaha mengisi jawaban tanpa berpikir panjang.

Pada saat istirahat ulangan. Indah, sahabat ku menarik tanganku dan mengajakku untuk ke taman belakang sekolah. Kami duduk di bawah pohon cengkeh yang tumbuh di halaman sekolahku.

“Chika, kamu kenapa sih akhir-akhir ini? Aku perhatiin kamu nggak kayak biasanya.”

“Ah nggak, siapa bilang, aku biasa-biasa saja kok”

“Ah…kamu jangan bohong. Kita udah sahabatan lama lho. Aku tahu kamu kayak gimana. Kamu beda banget sekarang.  Kamu selalu ga fokus, lagi ada masalah  ya, Chik.?  Kok sampai kayak gini kamu?”

“Ah nggak Indah, aku biasa saja kok” jawabku sambil air mataku menggenang .

Tiba-tiba saja aku memeluk  Indah sambil menangis. Ternyata aku tidak bisa menyimpan beban ini sendirian, tanpa kusadari air mataku keluar tanpa aba-aba. Aku memeluk sahabatku semakin erat tanpa berucap apa. Hal ini membuat sahabat ku semakin bingung.

“C-Chik kamu kenapa, cerita sama aku dong. Jangan dipendem!”.

“Ndah…., sebenernya aku udah …!”.

“Udah apa… Chik…? Kamu jangan bilang …” Indah makin penasaran.

“Nggak…bukan itu, kamu jangan nuduh aku yang nggak-ngak !“

“Lalu kenapa” Indah menatapku dalam-dalam.

“Aku ngilangin uang OSIS kita. Aku nggak habis pikir”

“Oo … gitu.. kirain aku kamu kenapa. Berapa Chik…?” Suasana berubah menjadi hening. Aku hanya menatap dedaunan dan rumput yang menghampari taman sekolah. Aku tidak menjawab Indah. Tiba-tiba setangkai ranting pohon cengkeh kecil menimpa bajunya Indah. Daunnya berguguran ke tanah. Kami terkejut, sambil penasaran mencari sumbernya melihat ke atas.

“Jangan dipikirin Chik…biar aku aja yang menggantinya. Berapa sih..?”

Alangkah terkejutnya Indah saat kusebut nominalnya.

“Hahhh segitu? Dua juta,  Chik? Sebanyak itu? Kok bisa?

“Itulah Ndah ..Aku nggak habis pikir, kenapa bisa gitu.  Padahal aku simpan baik-baik di dompetku. Sudah aku karetin malah. Itu adalah uang kas OSIS kita untuk pembelian baju kita. Gimana aku ngembaliinnya. Dimana aku dapetin uang segitu. Bagiku itu banyak banget.” Aku menangis di pelukannya.

Setelah mendengar pernyataan dariku, raut wajah Indah seketika berubah, dia sangat syok mendengar hal ini.

“Kok kamu bisa ngilangin uang sebanyak itu?, dimana hilangnya?”.

“Aku nggak tahu, Ndah. Ini alasannya kenapa aku gak mau cerita ke siapa-siapa. Kalau aku cerita juga pasti gak ada yang bisa bantu, karena kita ga mungkin punya uang segitu. Aku ga mau ngebebanin orang-orang dengan masalah ini. Aku gak tau hilangnya dimana karena pas di rumah aku baru tahu kalau uangnya hilang. Pas aku cek ternyata uangnya hilang dan cuma pecahan seratus ribuannya yang hilang. Sisanya pecahan lima puluh ribuan di dompet. Di luar nalar banget . Kalo manusia yang ngambil, kenapa ga semua aja diambil? Kenapa isi disisain? Yang diambil cuma yang nominal 100 ribu aja. Sebenernya aku juga sempet nanya ke orang pinter terus dibilang yang ngambil itu makhluk tak kasat mata kaya tuyul gitu deh. Aku takut banget cerita ke orang tua aku takut ngebebanin mereka”.

“Chik aku ikutan sedih denger masalah ini, tapi emang zaman kaya gini masih ada ya yang kayak gitu?”

“Percaya ga percaya, aku juga bingung. Aku jadi percaya karena aku sendiri yang ngalamin”.

“Tapi Chik kamu gabisa diem gini aja, kamu ga bakalan nemu solusi kalau kaya gini, mending kita ke BK aja Chik, siapa tau bisa nemuin solusi yang tepat!” Indah mengajakku menemui Ibuk Vera, guru BK- ku.

“Hmm… gimana ya.  Iya boleh deh “.

Aku diajak ke ruang BK  oleh Indah.

“Selamat Pagi Bu!”

“Iya nak, silahkan masuk! Ada apa nak?”

“Ini Buk..Chika mau menghadap”

“Kenapa Chika..? Kamu kok nangis. Ada apa?

Tidak ada yang dapat kukatakan, aku hanya menggigit bibirku dan air mata mulai menetes.

“Sebenarnya kami berdua datang kesini mau minta saran atau solusi dari ibu!” Indah menyampaikan kepada guru BK-ku.

“Emangnya ada apa dengan kalian? Ada masalah apa?”.

“Iya Bu, ini Chika sedang mengalami masalah besar!”.

“Masalah apa Chika? Chika cerita saja nak!”.

“Maaf Buk,  saya kehilangan uang Buk. Uang OSISnya .”.

” Haa.. berapa ? Kok bisa?”.

“Dua  juta Buk, totalnya dua juta tujuh ratus, tapi hilang dua juta sisa tujuh ratus di dompet saya

“Aduh kok bisaa ya ? Gimana hilangnya, dimana, Orang tuamu sudah tau ?”.

Aku hanya menggeleng saja . Air mataku membasahi pipi “Saya Saya tidak tahu harus bagaimana, Buk. Orang tua saya belum tau masalah ini. Saya takut untuk memberitahu karena orang tua saya sudah pasti memarahi saya, dan juga saya tidak mau membebani orang tua saya”. Suasana mendadak hening. Hanya jam dinding yang mendetak.

“Jalan terbaik adalah berbicara kepada orang tua kamu Chika, tidak usah takut jika kamu dimarah. Yang penting kamu berani untuk memberitahu orang tuamu nak. Ini adalah pelajaran buatmu. Memang kalau kita pegang uang itu harus hati-hati. Risikonya berat. Mudah-mudahan ada jalan. Jangan lupa bedoa ya Chik!

“Baik Bu , terimakasih atas sarannya, saya akan mencoba untuk memberitahu orang tua saya!”.

“Iya Chik, tapi kata Bu BK tadi ada benarnya kamu harus berani memberitahu orang tua kamu tentang masalah ini!”. Indah menimpali.

“Aku takutt Ndah. Takut, aku ga mau ngebebanin mereka dengan masalah ini!”.

“Engga Chik, gapapa, jangan dipikirin masalah dimarahnya, yang penting berani bilang dulu! Orang tua mana yang hanya diam saja melihat anaknya bersedih menghadapi masalah? Orang tuamu pasti membantumu Chik”.

Sampai di rumah lagi-lagi aku tidak bisa menahan rasa kecemasan dalam diri, rasa panik, dan gelisah, tanpa kusadari ayahku sudah sedari tadi berada di depan pintu melihatku sedang menangis. Betapa terkejutnya aku.

“Ee.. Ayah … kapan pulang?  Ibuk ikut? “aku berusaha tampak wajar. Kuusap pipiku dengan  bajuku.

“Kamu kenapa nak? Kok nangis, ada masalah apa?”.

Aku memeluk ayahku. Air mata ini kutumpahkan di dadanya. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku pun menceritakan semua masalah ku dengan detail kepada ayah sambil menangis.Setelah kuceritakan  masalahku, ayah berusaha menenangkan hatiku. Tiba-tiba Indah muncul di halaman.

“Chik…ini Chik…aku punya sedikit untukmu. Aku habis jual daun cengkeh yang kukumpulkan itu.

Chika bengong terpaku menatap sahabatnya yang sangat setiia itu. Pandangannya basah oleh air mata.

“Tidak Ndah, aku gak mau membebanimu.”

“Chik…kita pernah berjanji bahwa kita harus saling tolong, kamu ingat itu? Walau dikit aku ingin menolongmu. Aku ikhlas Chik.”

Aku memeluk Indah sambil menangis. “Trima kasih ya, Ndah. Kamu baik sekali, kamu memang sahabat sejatiku.”  Kami berpelukan. Ayahku mengusap rambut kami berdua.

Sejak saat itu, di sela-sela kesibukan sekolah, kami selalu gunakan bersama untuk memungut daun cengkeh untuk dijual ke pengepul. Kini kenangan akan kehilangan uangku itu berangsur-angsur sirna oleh waktu dan kesibukan kami memungut daun cengkeh.

5/5

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Get 30% off your first purchase

X
Scroll to Top