KITTYKU

(Oleh Tania Agustini)

Aku memiliki anjing di rumah. Namanya Kitty. Bulunya berwarna putih Tubuhnya mungil, jenis anjing mini pom.  Bulunya sangat lebat dan lembut hingga menutupi sedikit matanya. Aku sangat sayang kepadanya. Setiap hari, aku bermain kejar-kejaran dengannya. Aku merawatnya dengan baik, dan mensuntikkan vaksin setiap setahun sekali.

Antara aku dan Kitty seperti ada ikatan emosional. Selalu ada rasa rindu dan kangen jika tidak berjumpa denganya. Kemana-mana, biasanya dia selalu ingin ikut, duduk di motorku kalau aku keluar rumah atau kemana saja, kecuali ke sekolah. Dia tahu kalau aku ke sekolah. Maka, dia seolah-oalh enggan menolehku. Mungkin dia tidak suka kalau dia berpisah lama-lama denganku. Jika aku pulang sekolah, dia tahu, dan hafal betul dengan suara motorku. Dihadanglah aku di balik pintu gerbang rumahku. Sebelum aku menyandarkan motor, dia pasti melompat ke atas mtor metikku, berusaha menggapai muka  dan menjilati.

Aku heran, jika aku sedang muram atau sedih dia seperti merajuk-rajuk ke tubuhku, memandangi mataku kemudian ekspresinya seperti prihatin kepadaku. Lebih heran lagi, hanya perintahku yang dia turuti di rumah. Ayah ibuku tidak dihiraukan jika melarang atau memerintahnya.

Saat ini kasus gigitan anjing rabies menjadi berita yang seheboh Covid-19. Kematian akibat gigitan anjing gila atau rabies, merupakan  suatu yang sangat mengkhawatirkan masyarakat, sampai menjadi sorotan dunia. Padahal kami di Bali khususnya, rata-rata anjing merupakan piaraan hampir di setiap rumah.  Apalagi kasus ini terjadi di desaku. Desaku menjadi kawasan zona merah rabies.

Aku sedih sekali setelah mendengar kabar bahwa salah satu warga desaku, seorang anak perempuan berusia lma tahun  meninggal dunia setelah sempat digigit anjing peliharaannya. Sebelumnya, diduga anjing peliharaannya ini memang sudah pernah menggigit tetangganya, sebagai pertanggung jawaban korbannya ini diberi uang untuk diberi VAR (vaksin anti rabies).

Kali ini, ternyata  anjing ini pun menggigit Tika, majikannya sendiri. Hal itu terjadi saat Tika ingin mengambil mainan di bawah kasurnya.

Secara tiba-tiba anjingnya menggigit anak Tika,  tepat disiku kanannya. Tika hanya mengalami luka bekas gigitan berupa goresan, sehingga lukanya tidak dianggap serius oleh pihak keluarga, dan tidak dilaporkan ke fasilitas kesehatan terdekat. Karena itu, Tika tidak mendapatkan penanganan VAR. Singkat cerita, anjing tersebut dibunuhnya.

Selang waktu sebulan, Tika mengalami demam akhirnya dibawalah ke puskesmas oleh orang tuanya.  Pihak Puskesmas merujuk anak ini untuk dibawa ke rumah sakit. Setelah dibawa ke rumah sakit anak perempuan ini mendapatkan perawatan,  ia mendapat keluhan tidak bisa minum air atau takut air (hidropobia), nyeri, gelisah, dan takut angin. Menyedihkan sekali, ternyata gadis malang ini memilih untuk meninggalkan dunia ini selama-lamanya.

Belakangan diketahui, bahwa anjing tersebut belum divaksin. Sontak berita itu membuat geger desaku.  Para warga sangat khawatir dengan penyebaran rabies di desaku.  Mereka mewaspadai setiap  anjing untuk mengantisipasi terkena rabies.

Kitty kukurung di dalam rumahku dengan selalu menutup pintu pagar jika aku meninggalkannya di rumah. Ayah ibuku kepesanin agar jangan membiarkan Kitty brmain di luar rumah. Anjing ku adalah hewan peliharaan yang setia.  Setiap hari, Kitty menungguku di pagar rumah bila aku belum pulang sekolah. Kitty juga penjaga rumah yang handal, jika ada tamu yang datang dia akan menggonggong.

Suatu ketika, saat aku pulang sekolah, tidak ada Kitty yang menungguku di gerbang. Aku Tanya ayah dan ibuku dimana Kitty, mereka hanya menjawab “tadi ada di rumah.” Perasaanku mulai tidak enak. Tanpa membuka baju sekolah dan sepatu aku ke sana kemari memanggil-manggil namaya. Aku tanya kepada tetangga, mereka bilang tidak melihatnya.

Aku sangat khawatir dan mencari Kitty kesana-kemari namun tidak ketemu. Berbagai praduga berkecamuk dalam pikiranku. Dengan nafas terengah-engah dan hati berdebar kencang  aku menyusuri jalan di setiap gang di sekitar rumahku.  “Jangan-jangan kitty dibunh orang” Pikiranku.semakin menteror. “Ah…mudah-mudahan tidak” gumamku. Aku berdoa semoga Kitty dapat kutemukan selamat dan bersamaku lagi.

Tiba-tiba pandanganku dihentikan sesosok warna putih di semak-semak. Aku mendekatinya samil erengah-engah. “Mudah-mudahan itu dia”, doaku. Aku semakin mendekat dan aku sedikit gembira dia seperti sembunyi di balik semak.

“Kitty sayanggg…. Kamu sembunyi ya. Awas kau nanti” aku memanggilnya dengan manja.

Tangisku pecah saat kugapai, dia sudah tidak bernyawa. “Kittyyyyy……….. Kenapa kamu?. Siapa yang telah meracunimu?

Aku menangis sejadi-jadinya. Aku bawa pulang dia. Kukuburkan di bawah pohon jeruk di pekarangan. Kudoakan sambil menangis sesenggukan. Aku buatkan batu nisan. Ayah ibuku sedih dan mereka ikut menitikkan air mata.  Kami berduka. Sangat berduka cita. Mataku sembab Karena  terus menangis tak mampu menahan rasa  kepada Kittyku.

Aku, Kamu Menjadi Kita

(Karya Nadia)Ini  bulan Juli tahun 2022,  masa MPLS. Caca sudah lulus dari SMP. Ia  melanjutkan ke jenjang SMA. Sekolah tujuannya adalah SMA N 1 Banjar.

Read More »

ANTARA TEMAN DAN CINTA

(Karya Devik)Ketika perempuan dan laki laki menjadi sahabat apakah mungkin diantaranya tidak akan tumbuh sebuah rasa? Rasanya mustahil jika salah satunya tidak menaruh rasa cinta.

Read More »

Bahagia Bertubi

Oleh  Putu Ferry AriawanPada suatu malam, di hari Kamis tanggal delapan Agustus 2023, aku melamun di kamar. Aku berkhayal memikirkan nilai rapotku besok yang akan

Read More »

BAHASA JIWA BANGSA

(Kary Tedy Pujayanti) Pagi ini, matahari muncul dengan malu malu. Udara yang sejuk menyambut dunia, dan bunyi burung burung yang bersahutan. Terlihat seorang perempuan bernama Tia

Read More »

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Get 30% off your first purchase

X
Scroll to Top