Sinopsis Judul Novel : Paradigma

Judul Novel : Paradigma

Karya : Syahid Muhammad

Jumlah Halaman : 312

Nama : Putu Arma Damiyanti

Kelas : XII MIPA 4

No absen : 26

Novel ini menceritakan tentang kehidupan remaja laki-laki yang bernama Rana yang menjadi tokoh utama di novel ini, Rana memiliki kepribadian yang misterius, egois, dan memiliki hobi melukis. Dia memiliki seorang teman yang bernama Anya. Anya adalah remaja perempuan yang juga menjadi tokoh utama di novel ini. Dia memiliki hobi yaitu menulis sebuah puisi. Pertemuan Rana dan Anya adalah pertemuan yang sangat sinkron dan pas. Karena mereka berdua memiliki hobi yang cocok untuk dipadupadankan, antara tulisan dan lukisan merupakan perpaduan yang pas. 

     Kedekatan Anya dan Rana menimbulkan konflik dengan Ola yang dimana Ola merupakan kekasih dari Rana. Rana memang lebih dekat dengan Anya karena mereka sering bertemu di suatu tenpat untuk menjalankan hobi mereka. Karena Rana yang memiliki sifat egois dan terkesan santai jadi dia tidak terlalu memperdulikan ketika Ola marah jika dia dekat dengan Anya. Rana memiliki sahabat laki-laki satu-satunya yang bernama Aldo. Dibilang sahabat satu-satunya karena Rana jarang berteman dengan laki-laki melainkan Rana lebih sering bersama teman perempuannya. Karena hal tersebutlah rana sering diberi julukan “GAY”. Namun karena sifat rana yang acuh jadi dia tidak pernah memperdulikan hal tersebut. DI hari lain Rana ingin mengajak Aldo untuk pergi ke cafe sekalian Rana ingin memperkenalkan Aldo dan Anya. Ketika Aldo bertemu dengan Anya, Aldo sangat takjub dengan sosok Anya yang memiliki kecantikan yang berbeda, menurut Aldo anya cantik pada suaranya, dan cara dia menyapa. Aldo berfikir bahwa ini lah alasan Rana nyaman dekat dekat dengan Anya.

      Di lain waktu Ola dan Rana menonton sebuah film, kisah di film itu hampir sama dengan kisah mereka berdua. Dan mereka mulai mengutarakan pendapat mereka masing-masing tentang film yang baru saja mereka tonton , hingga pada akhirnya Ola menyinggung soal Anya. Perempuan yang sering diajak bertemu oleh Rana. Ola mengutarakan perasaannya bahwa dia tidak suka Rana bertemu dengan Anya. Hingga perdebatan mereka menjadi sangat panjang dan akhirnya keputusan mereka bulat untuk hidup masing-masing.

    Di lain waktu Anya dan Rana tengah bersama, tiba” ada sesosok perempuan yang datang dan langsung berteriak dan memeluk Anya itu menunjukan bahwa dia sangat rindu dengan Anya. Perempuan itu ialah Felma. Felma merupakan sahabat Anya sedari mereka SMA. Mereka berpisah saat mereka sudah lulus karena Felma memutuskan untuk Kuliah di UGM. Dan dia pulang ke Bandung sangat jarang. Di sana Anya pun memperkenalkan Felma kepada Rana dan Rana menyambutnya dengan hangat. Merekapun mulai bercerita tentang pengalaman masing”. Hingga pada akhirnya Rana mengeluarkan alat lukisnya dan mulai melukis. Saat Rana ijin ke toilet, dua perempuan ini penasaran dengan lukisan Rana dan betap terkejutnya mereka karena lukisan Rana sama dengan Lukisan Ikrar pacar dari Felma. Setelah kejadian itu merekapun merencanakan sesuatu yang konyol. Untuk membuktikan kebetulan tersebut. Karena dirasa sudah cukup lama, akhirnya Felma pun pulang, dan diantar oleh Anya sampai di stasiun. Di waktu sore Anya pmenjalankan pekerjaan sampingannya sebagai driver taksi online, hal itu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dan jika dia mengingat kebelakang tentang hidupnya dia sangat rindu dengan orang tuanya.

    Suatu waktu di rumah Ikrar. Felma sedang berada di rumah Ikrar untuk makan malam bersama dengan Ikrar dan Ayahnya. Setelah makan malam, Felma pun  dengan Jana tidak lain merupakan ayah dari Ikrar, mereka mengobrol tentang masa lalu Om Jana, dan pada akhirnya Om Jana bercerita dan membuat Felma semakin senang mendengarkan. Beberapa lama setelah itu Felma pun menghampiri Ikrar dan bertanya tentang mimoi yang selalu Ikrar ceritakan, dan Felma tau mimpi itu sangat menggangu Ikrar dan dia hanya bisa membantu untuk menenangkan Ikrar.

    Anya dan Rana kini mulai semakin dekat, Rana yang selalu mencari-cari sosok Anya. Begitupula  dengan Anya. Mereka merakan kenyamanan di diri mereka masing-masing ketika bersama. Rana ingin mengajak Anya untuk pergi ke suatu tempat, dan Anya sempat menolak karena Anya sudah terlalu sering mengabaikan pekerjaan sampingannya yang tidak diketahui oleh Rana. Namun akhirnya Anya pun mau menerima ajakan Rana. Merekapun bertemu di waktu yang sudah mereka tentukan, mereka berangkat menuju tempat yang direncanakan oleh Rana. Di tengah perjalanan Rana bercerita tentang kesukaanya pergi ke tempat itu dan selalu berjalan-jalan bersama mamanya, yang dimana mamanya Rana suka sekali jalan-jalan. Hingga pada akhirnya mereka sampai di sebuah rumah dan di sana ada sosok perempuan paruh baya yang bernama Bu Euis, Rana pun dengan sigap menyalami tangan ibu itu. Anya yang kebingungan pun ikut menyalami tangan ibu itu. Mereka berbincang” sebentar, dan Ibu Euis mempersilahkan keduanya untuk masuk ke rumah sederhananya. Mereka disuguhi teh hangat. Mereka berdua menikmatinya. Rana memberi tahu Anya, bahwa dia sering pergi ke sini untuk mencari ketenangan. 

     Di sisi lain, Felma dan Ikrar sedang berada di kontrakan Felma. Mereka melakukan ritual untuk berbagi cerita. Ikrar mulai memberikan pilihan untuk Felma memilih dupa mana yang akan mereka hidupkan. Dan Felma memilih dupa coklat. Ikrar pun menghidupkan dupa itu, dan mereka mulai berbincang satu sama lain. Dan di saat giliran Ikrar yang bercerita Felma pun mengajukan pemintaan agar dia diberikan kesempatan lagi untuk berbicara. Ikrar memberikan kesempatan itu. Dan Felma berfikir bahwa iya akan menjalankan rencananya ini tanpa adanya Anya. Felma pun mulai mengeluarkan foto lukisan Rana dan saat Ikrar melihat itu Ikar pun kaget, dan dia tidak menyangka lukisan itu bisa sama dengan apa yang ia lukis. Akhirnya ikrar teringat sesuatu dan dia pun mulai menguak masa lalunya, melihat lukisan itu seperti ada sesuatu yang sangat dekat dengan dirinya, dia pun menyebut nama Rana. Dan dia bertanya kepada Felma dimana orang tuanya skrng, Felma menjawab bahwa dia hanya tibggal dengan ibunya saja.

     Kembali lagi pada Rana dan Anya. Kini mereka berdua sedang menyusuri lembah dengan menapakan kaki di jalan kecil setapak. Mereka sedang mancari tempat untuk memasang tenda dan menikmati malam. Di perjalanan Rana bercerita bagaimana awalnya dia bisa tau jalan itu. Dia bercerita bahwa dia tau jalan iti dari cerita-cerita ibunya. Hingga akhirnya mereka menemukan tempat yang pas untuk berkemah. Setalah mendirikan tenda, mereka duduk di atas matras di depan tenda dan mulai berbincang. Rana mengeluarkan kertas gambarnya dan Anya meminta ijin untuk menulis di atas batu besar di pinggir sungai. Sekarang mereka tengah sibuk dengan isi kepala mereka masing-masing yang mereka tuangkan ke dalam bentuk karya. Setelah semua di rasa cukup merekapun kembali duduk beriringan lagi sambil menikmati hangatnya api unggun. Anya pun mulai menceritakan masa lalunya. Yang dimana semua pilihannya ditentukan oleh orang tuanya, dia dipaksa untuk masuk kedokteran sedangkan dia tidak pernah mau. Hingga pada akhirnya ada suatu kejadian yang menimpa kedua orang tuanya yaitu kecelakaan pesawat. Dan pada akhirnya dia bisa bebas menentukan pilihannya, namun dia harus melihat orang tuanya seperti itu.

     Rana tengah bertemu dengan Ola, namun di sana Rana malah menceritakan perjalannya kemarin bersama Anya yang membuat Ola marah. Hingga pada akhirnya mereka kembali bertengkar. Rana pergi dari tempat itu dan ia memesan taksi online,,ia sengaja karena ia tau bahwa Anya berprofesi sebagai driver taksi online. Dan Anya kaget saat melihat penumpangnya adalah Rana. Di dalam mobil mereka saling melontarkan candaan. Hingga tibalah mereka di rumah Rana. Rana mengajak Anya untuk mampir, Anya terkejut namun ia pasrah saja. Dia melihat sekeliling rumah Rana yang dimana rumah itu hanya berisikan lukisan-lukisan abstrak dan banyak sekali tumbuhn sukulen. Selang beberapa menit Rana pun datang dan membawakan coklat panas untuk Anya. Rana menyuruh Anya untuk menunggu sebentar karena dia ingin memanggil mamanya. Selang 30 menit mama Rana pun datang, dan perasaan Anya mulai tidak karuan.

    Suatu waktu, Rana mengajak Anya untuk pergi ke suatu tempat. Tempat itu adalah tempat berkumpulnya orang-orang yang ingin menuangkan kegelisahannya lewat karya visual. Perkumpulan itu diberi nama Komunitas Well Being. Satu per satu teman Rana pun datang dan tidak lupa mereka menyapa Anya juga. Mereka mulai sibuk dengan peralatan mereka, dan Rana memberikan selembar kertas untuk Anya. Anya pun bingung harus menulis apa dan Akhirnya ia pun tau dan mulai menikmati hal tersebut. Semua mata ternyata tertuju pada Anya dan mereka yang ada di sana memberikan tepuk tangan untuk Anya sebagai bentuk apresiasi karena Anya sudah menyelesaikan karyanya.

    Suatu waktu Rana ingin agar Anya menemani mamanya untuk belanja ke pasar. Anya menerima permintaan itu, dia pun ke rumah Rana dan menemui bunda Yani, ya begitulah panggilan mama Rana. Di perjalanan menuju pasar, bunda Yani mulai berbincang dengan Anya, awalnya Anya gugup namun lama kelamaan Anya mulai nyaman karena ia juga sangat merindukan sosok ibu. Bunda Yani menceritakan masa kecil Rana dan membuat Anya sangat senang mendengar cerita-cerita tersebut. Namun anehnya Anya melihat Bunda Yani seperti cerminan dari Rana. Namun dia tidak mau menanyakan hal tersebut. Saat bunda Yani dan Anya tengah berbincang Anya memberanikan diri untuk bertanya pada Bunda Yani apakah Rana punya saudara atau tidak dan dimana ayah Rana. Bunda Yani pun berteriak dan terlihat kesal. Dia tidak menjawab dan menyuruh Anya untuk pulang saja. Dan Anya pun langsung pulang.

    Di kampus, Aldo sedang bersama Ola. Ola menunjukan sesuatu kepada Aldo sebuah foto Rana dari gawai Ola. Aldo pun kaget bukan main dan dia tidak percaya akan hal tersebut. Namun bukti sudah ada. Dan Aldo juga sempat bertanya kepada Karina pacarnya. Menurut karina memang ada sesuatu yang aneh dari Rana. Hingga suatu pagi Aldo menunggu kedatangan Anya dengan sangat cemas. Karena berita tentang Rana sudah tersebar dan foto – foto yang Aldo lihat kemarin sudah tersebar. Dan akhirnya Anya pun tiba, dan dia lemas saat mengetahui hal tersebut. Saat di dalam jam perkuliahan Aldo dipanggil oleh dosen psikologi, keluar dari ruangan itu Rana di hampiri oleh kedua temannya itu. Dan Rana meminta untuk sendiri dan tidak di cari. Rana dan Anya pun panik dia pun pergi ke rumah Rana dan terlihat tidak ada orang. Di satu sisi Rana sedang terisak tangisnya di dekapan mamanya.

      Setelah kejadian Rana muncul dengan pakaian Bunda Yani, para dosen mulai rapat dan ingin men do Rana. Di samping itu Anya, Felma , Aldo dan Ikrar pergi ke rumah Rana. Saat Ikrar bertemu Rana, Ikrar memanggil nama Yani. Dan semua terkejut. Ternyata Ikrar adalah Om Jana . Ternyata Ikrar dan Rana adalah saudara yang terpisah. Mereka menghidupkan sosok orang tua mereka pada diri mereka masing-masing.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Print
Email
WhatsApp

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Get 30% off your first purchase

X
Scroll to Top