TAS

(Karya Putu Devi Fridayani)

Aku terlahir di keluarga yang berbecukupan, serta penuh kasih sayang orang tuaku. Aku merupakan anak pertama dari 2 bersaudara. Gisella Anastasya Alexandra Putri, adalah nama yang diberikan orang tua ku.

 Bagaimana rasanya ketika semua perhatian hanya terfokus pada dirimu saja? Bagaimana rasanya ketika apa yang kamu inginkan selalu terpenuhi.? Ya, aku merasakannya! Kehidupan yang menyenangkan jika dibandingkan dengan orang lain kurasa :). Pertu kalian ketahui orang tua ku adalah petani cengkeh dan kopi. Di hari-hari biasa mereka pergi ke kebun untuk merawat cengkeh dan kopi.

 Tak ada sarapan bersama….

Hanya aku sendiri.

 Ah sudahlahh…

Aku tak mengapa, aku baik-baik saja.

Saat itu umurku baru menginjak 6 tahun. Saat itu ayahku memberikan skuter untuk hadiah ulang tahunku. Pada sore hari, aku bermain bersama teman-teman. Aku masih mengingatnya dengan jelas, bagaimana khawatirnya ayah saat mendengar aku jatuh dari skuter.

Saat itu sakit memang masih terasa di lututku.

 Tapi, abu hanya tertawa

Ya, aku tertawa karna raut wajah Ayah yang tengah khawatir dan terlihat lucu di mataku Aku tidak peduli dengan rasa sakitku, Aku baik-baik saja.

 Itu karena abu merasa aman dan nyaman Ketika ayah berada disampingku.

Waktu itu, aku masih mengingatnya. Badanku terasa panas. Saat itu tengah malam namun ibuku tetap terjaga dari tidurnya . Keesokan harinya aku di ajak be rumah sakit dan ternyata aku terkena penyakit Demam Berdarah. Setelah aku mendapatkan ruangan, Ibuku selalu disampingku. Malam pun tiba,Ibuku tidur di samping dan ayahku di sofa. Aku tau mereka menyayangiku. Mereka adalah orang Penuh kasih untukku.

 Singkat cerita umurku sudah 7 tahun. Dan adik perempuanku lahir. Awalnya aku sangat dengan behadiran adikku. Aku menciumnya setiap aku akan berangbat sekolah. Aku sering membayangkan bagaimana aku bermain skuter bersamanya,bermain masak-masakan dan masih banyak lagi.

Singkat cerita, adikku sudah menduduki bangku SD. Orang tuaku sudah mulai berbeda. Mereka hanya fokus pada adikku saja.

Saat aku dan adikku pulang sekolah. Hujan turun sangat lebat. Aku dan adiku memutuskan untuk hujan – hujanan untuk pulang. Sesampainya dirumah aku dan adikku demam. Dan aku dimarah oleh ibu “Kamu kenapa ajak adikomu hujan – hujanan sih? Kan adikmu jadi sakit” “Tapi

aku juga sakit bu… Maafin aku bu…” Ucapku yang sudah menyesali perbuatanku.” Ah…. Ibu tidak peduli ! Ibu mau rawat adikmu dulu.” Dan aku hanya bisa menangis di kamarku.

 Hari libur pun tiba. Seperti biasa, aku dan keluarga pergi ke mall untuk membeli perlengkapan sekolah. Tapi… ternyata ini tidak seperti biasanya. Aku seperti orang lain di beluargaku sendiri.

 “Adik, kamu suka sepatu ini?” Tanya ayah.

 “Suka banget yah … Aku mau itu ya…”

  “Kalau kamu pakai tas ini pasti beren banget.” Kata ibuk

 “lya bu… Kebetulan tas itu memang yang aku cari.”

  Ayah, Ibu… Aku mau beli yang ini ya.”

“Gausah… Tas dan sepatumu kan masih bagus, Ini untuk adikmu saja.” Kata ayah.

 Aku hanya bisa tersenyum untuk menutupi kesedihanku.

Sesampainya di rumah, aku langsung ke kamar dan mengunci pintu. Aku marah pada tuhan.

 “Tuhan.. Kenapa sekarang seperti ini? kenapa kasih sayang orang tuaku menghilang? Aku sangat merindukan mereka yang dulu! Aku rindu mereba dulu!” ucapku sambil berharap tuhan mendengarkannya.

Aku menghabiskan liburku dengan mengurung diri di kamar. Dan… Ya! Orang tua ku tidak peduli. Hari libur telah usai. Aku kembali ke rutinitasku. Aku berangkat ke sekolah dengan harapan Aku di antar oleh Ayah. Ternyata tidak. Yang dihantar hanya adikku saja. Sedangkan aku harus naik ojek.

 Sesampainya di sekolah, aku melihat teman-temanku berkumpul di satu meja. Aku pun menghampirinya. Ternyata, temanku sedang pamer tas baru.

 “Gisella… mana tas barumu? Lihat nih tas baru aku.. bagus kan?” Tanya Nanda.

“Hehehe… Abu tidak ada tas baru…”

                “HaHaHa… Kasian banget. lihatuh… Adikmu saja tas baru… Masa kamu enggak?”

 “Hahaha… Anak pungut kalik…” kata Sara.

Hatiku terasa tertusuk jarum. Sakit sebali… Semenjak kejadian itu, aku berusaha sendiri.

Aku menjual barang-barang online. Ternyata, usahaku berhasil. Aku mulai membeli kebutuhanku sendiri tanpa meminta kepada orang tuaku. Malah sebaliknya, aku yang membelikan mereka. Ya.. Walaupun sedikit, tapi aku bangga pada diriku sendiri.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Print
Email
WhatsApp
"Imajinasi lebih penting daripada pengetahuan. Karena pengetahuan memiliki batasan, sedangkan imajinasi merangkul seluruh dunia, merangsang kemajuan, melahirkan evolusi."
albert einstein, scientist, physics-1100450.jpg
Albert Einstein
Ilmuwan

You May Also Like

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Get 30% off your first purchase

X